Tiga hari ini ada sms-sms keras kepala yang berhamburan, juga maki-makian di telepon seluler. Tak begitu menyenangkan, namun syukurlah pada beberapa saat itu tak benar-benar terdengar dengan jelas apa yang dimakikan. Tak perlu marah, karena saat itu kesadaran bahwa tubuh, hati dan jiwa yang ada dalam keadaan berpuasa masih belum hilang.
Nasehat-nasehat dilayangkan. Tentang kesabaran, cara penyelesaian masalah tanpa mengikutkan emosi, dengan sedikit menunggu emosi reda sambil mencari solusi yang jauh lebih baik untuk diri sendiri dan semua orang di sekitar kita. Jauh lebih baik bagi orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Agar hak mereka juga dapat terpenuhi. Hak untuk melihat kita tumbuh menjadi orang yang lebih matang dalam menghadapi berbagai masalah yang ada di hadapan kita. Juga masalah-masalah yang akan menjelang. Hak untuk melihat kita menjadi jauh lebih baik daripada pendahulu-pendahulu kita. Daripada orang tua dan senior-senior kita.
Namun hanya demi sebuah gosip, semua itu tak perlu lagi dipikirkan. Maka terserahlah. Karena kita telah memilih jalan.
My Father (2007) sebuah film yang diangkat dari kisah nyata mengenai pencarian ayah kandung oleh seorang anak yang telah diadopsi sejak masa kanak-kanaknya. Dalam pencariannya, dia menemukan banyak hal tak terduga. Meskipun satu per satu penemuan itu hanya mengarahkan pada kekecewaan yang makin dalam, namun pada akhirnya dia tetap menerima orang yang telah mengaku sebagai ayah kandungnya sebagaimana adanya.