Demi Sebuah Kabar

Tiga hari ini ada sms-sms keras kepala yang berhamburan, juga maki-makian di telepon seluler. Tak begitu menyenangkan, namun syukurlah pada beberapa saat itu tak benar-benar terdengar dengan jelas apa yang dimakikan. Tak perlu marah, karena saat itu kesadaran bahwa tubuh, hati dan jiwa yang ada dalam keadaan berpuasa masih belum hilang.

Nasehat-nasehat dilayangkan. Tentang kesabaran, cara penyelesaian masalah tanpa mengikutkan emosi, dengan sedikit menunggu emosi reda sambil mencari solusi yang jauh lebih baik untuk diri sendiri dan semua orang di sekitar kita. Jauh lebih baik bagi orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Agar hak mereka juga dapat terpenuhi. Hak untuk melihat kita tumbuh menjadi orang yang lebih matang dalam menghadapi berbagai masalah yang ada di hadapan kita. Juga masalah-masalah yang akan menjelang. Hak untuk melihat kita menjadi jauh lebih baik daripada pendahulu-pendahulu kita. Daripada orang tua dan senior-senior kita.

Namun hanya demi sebuah gosip, semua itu tak perlu lagi dipikirkan. Maka terserahlah. Karena kita telah memilih jalan.

Komentar Dimatikan

Filed under Renungan

Ma-i pa-deo

My Father (2007) sebuah film yang diangkat dari kisah nyata mengenai pencarian ayah kandung oleh seorang anak yang telah diadopsi sejak masa kanak-kanaknya. Dalam pencariannya, dia menemukan banyak hal tak terduga. Meskipun satu per satu penemuan itu hanya mengarahkan pada kekecewaan yang makin dalam, namun pada akhirnya dia tetap menerima orang yang telah mengaku sebagai ayah kandungnya sebagaimana adanya.

Dalam kisah itu, secara implisit dikisahkan bahwa ibunya adalah seorang wanita tuna susila. Tes laboratorium pun menyatakan bahwa ayah yang ditemukannya itu bukanlah ayah yang sebenarnya. Mungkin hanya seorang teman ibunya yang ingin membantu meringankan beban hidup yang ditanggung karena telah mengandung anak yang bukan hasil dari hubungan pernikahan yang sah.

Tautan terkait:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/My_Father
2. http://www.koreanmovie.com/My_Father_kmintro_536/
3. http://www.imdb.com/title/tt0996963/
4. http://www.hancinema.net/korean_movie_My_Father.php
5. http://chrisbourne.blogspot.com/2008/08/2008-new-york-korean-film-festival_22.html

Komentar Dimatikan

Filed under Sinema

Jadi satpam lagih

Baru pulang dari piket jaga malam di kecamatan. Jadwal mendatang tanggal 24 September. Ramadhan sudah separuh jalan, dan bulan sedang purnama. Bumi berputar dari timur ke barat, tapi kok angin bertiup dari selatan ke utara ya? IPAku makin cethek…

Komentar Dimatikan

Filed under Diari

Soe Hok Gie

Baru nonton Gie setelah 3 tahun mengetahui nama itu. Film yang cukup padat dan sarat dengan materi sastra, politik dan sejarah.

Komentar Dimatikan

Filed under Diari

Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan

“… seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan.”[1. Seperti dikutip dari http://alief.wordpress.com]

Bacaan lain:
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Soe_Hok_Gie
2. http://kapasmerah.wordpress.com/2008/02/27/puisi-puisi-soe-hok-gie
3. http://yulian.firdaus.or.id/2004/12/16/soe-hok-gie
4. http://jabier.blogsome.com/2005/06/24/soe-hok-gie
5. http://www.esn.or.id/2005-12-28-soe-hok-gie.html
6. http://fajri.blogjurnalistikonlain.com/wordpress/?p=19
7. http://www.syaldi.web.id/?p=59
8. http://jakartadailyphoto.com/index.php/2007/05/03/soe-hok-gie
9. dan seterusnya

Komentar Dimatikan

Filed under Kutipan

Dalam keteraturan

sang lain ingin bebas.
bebas, bukan lepas.
dari kekhawatiran
yang membelenggu saat
waktu terenggut.

Komentar Dimatikan

Filed under Puisi

Don’t Look Back

At the beginning
We all imagine ourselves the agents of our destiny. Capable of determining our own fate. But have we truly any choice in when we rise… or when we fall… or does a force larger than ourselves bid us our direction? Is it evolution that takes us by the hand… does science point our way… or is it God who intervenes… keeping us safe?

Kita semua membayangkan diri sebagai pembawa takdir. Mampu menentukan nasib sendiri. Namun punyakah kita pilihan ketika memperoleh kejayaan… atau ketika terpuruk… ataukah ada kekuatan lebih besar yang membuka jalan bagi kita? Evolusikah yang mengantarkan kita… apakah ilmu pengetahuan menjadi penunjuk jalan kita… ataukah Tuhan yang ikut campur tangan… menjaga keselamatan kita?

At the end
For all his bluster, it is the sad province of Man that he cannot choose his triumph. He can only choose how he will stand when the call of destiny comes… hoping that he’ll have the courage to answer.

Demi semua kemegahannya, merupakan kesedihan Manusia karena tidak dapat memilih kemenangannya. Ia hanya dapat memilih bagaimana ia akan berdiri ketika panggilan takdir tiba… berharap agar ia akan mempunyai keberanian untuk menghadapinya.

HEROES
Season 1 Episode 2

Komentar Dimatikan

Filed under Kutipan